Sebut saja namanya Rara, Rara adalah
gadis yang sangat sabar dan tegar ketika dia menghadapi sebuah masalah, bahkan
musibah. Tapi tak mungkin baginya jika masalah itu hanya di simpannya sendiri.
Dia selalu menceritakan semua masalahnya kepada Ibunya. Dan tak jarang pula,
dia menceritakan masalahnya kepada sahabat dekatnya. Karena menurut dia hanya
Ibu dan sahabatnya yang mengerti perasaannya.
Malam itu begitu sunyi. Tak ada
suara apapun yang terdengar. Tiba – tiba suara sunyi itu hilang, karena
terdengar suara Ibu yang memanggil Rara “ Ra,,,bangun Ra! ”. “ Ada apa Bu ? kok
membangunkan Rara ”, jawab Rara. “ Ayahmu, Ra ! ”, kata Ibu. Rara terlihat
bingung dan berpikir yang macam – macam. “Ra, apa yang sedang kamu pikirikan,
Ra ? “, kata ibu. Rara terkejut dann langsung bertanya kepada ibunya “ Kenapa
Ayah, Bu ? “. “ Setengah bagian badan Ayahmu tidak dapat digerakkan “, kata
Ibu. Rara menangis mendengar keadaan Ayahnya. Dengan segera, Rara menelepon
Pamannya. Dan Pamannya langsung pergi ke Rumah Rara dan langsung membawa Ayah
Rara ke Rumah Sakit.
Rara tidak ikut mengantarkan
Ayahnya, karena besok dia harus sekolah. Dia hanya tinggal di rumah seorang
diri. Dia hanya bisa mendoakan Ayahnya, agar Ayahnya selamat dan tidak terjadi apa
– apa. Rara merasa sedih, karena dia tidak bisa menemani Ayahnya. Tetapi, dia
tidak boleh sedih, karena dia yakin Ayahnya tidak ingin melihat Rara sedih.
Hari pun beranjak pagi, Rara pergi
ke Sekolah dan menjalani aktifitasnya seperti biasa. “ Rara kenapa ya, kok
terlihat sedih ? “, tanya Shandy. “ Mungkin dia banyak masalah ! ayo kit hibur
dia dan tanya masalahnya ! “, kata Retno. Rara terlihat diam dan begitu sedih
di dalam kelasnya. “ Ra, kenapa kamu ? “, tanya Shandy dan Retno. “ Ayah Rara
masuk Rumah Sakit “, jawab Rara. “ Ra, kamu gak boleh sedih seperti ini “, kata
Retno. “ Ya, Ra..Retno bener kamu gak boleh sedih seperti ini... Rara yang
Shandy kenal adalah Rara yang tegar dan selalu tersenyum, saat dia mendapat
masalah sebesar apapun “, kata Shandy “ Tapi, Shan...Rara gak bisa melihat Ayah
Rara saat sakit seperti itu “, kata
Rara. “ Ra,,, denger Shandy ! dulu Rara pernah bilang ke Shandy saat Ibu Shandy
sakit...Shandy gak bolaeh sedih, Shandy harus tersenyum... Ibu Shandy pasti
akan sedih jika melihat Shandy sedih ... Tapi kenapa sekarang Rara harus sedih,
Rara harus ingat kata – kata Rara sendiri “, kata Shandy. “ Ya, Shan,, Rara
ingat itu... makasih ya Shan,, Shandy
udah menasehati Rara “, jawab Rara. “ Iya,,,Ra, itu sudah menjadi kewajiban
Shandy sebagai Sahabat Rara.
Pulang dari Sekolah Rara langsung
pergi ke Rumah Sakit untuk menjenguk Ayahnya. “ Bu,, gimana keadaan Ayah ? “,
tanya Rara. “ Lihat saja Ra,, Ayahmu hanya tidur saja dari tadi “, jawab Ibu. “
Ayah sebenarnya sakit apa Bu ? ”, tanya Rara. “ Menurut Dokter Ayahmu terkana
struk, tetapi Dokter tidak dapat memastikan, karena disini mesin Scandnya rusak
“, kata Ibu. “ Terus gimana ini, Bu ? ", tanya Rara. “ Ibu akan berusaha
semaksimal mungkin, agar Ayahmu sembuh total “, kata Ibu. “ Iya, Bu... Rara
akan selalu mendoakan Ayah agar cepat sembuh “, kata Rara.
Emapat hari kemudian, tidak ada
perkembangan dari Ayah Rara. Ibu Rara langsung meminta rujukan ke Dokter, agar
ayah Rara segera di kirim ke Rumah Sakit di Surabaya. “ Bu,,, Apa Ayah akan di
bawa ke Surabaya ? “, tanya Rara. “ Iya Ra,,, Ibu akan membawa Ayahmu ke
Surabaya, agar Ibu tahu sakit apa yang diderita oleh Ayahmu, karena, disini
Ayahmu menunjukkan perkembangannya “, kata Ibu. “ Rara mengerti, Bu ! Tetapi
dengan siapa Rara akan tinggal di Rumah ? “, tanya Rara. “ Rara tidak harus
tinggal di Rumah.. Rara tinggal saja di Rumah Tante, Ibu sudah bilang ke
Tantemu “, jawab Ibu. “ Baik, Bu.. Rara akan tinggal di Rumah Tante, Ibu jaga
kesehatan ya ? “, kata Rara. “ Iya, Ra ! ”, jawab Ibu. Saat itu, Rara mencium
tangan Ayahnya yang lemah dan tak berdaya dan tangan Ibunya.
Setelah pulang dari Rumah Sakit Rara
langsung kembali ke Rumahnya dan berkemas untuk pergi ke Rumah Tantenya.
Selesai berkemas Rara menelepon Tantenya untuk memberitahu Tantenya bahwa Rara
sudah berangkat. Tiba di Rumah Tante, Rara langsung diantarkan ke Kamar, agar
Dia dapat belajar. Malam Rara begitu sepi. Tak ada lagi suara Ayah yang
menyuruhnya. Tak ada seorang Ayah yang menemaninya, hanya ada buku – buku yang
selalu ada di sampingnya. Kini Rara merasa kesepian tanpa ada ayahdan Ibunya.
Dan dia hanya bisa mendoakan kedua orang tuanya agar selalu sehat dan
dilindungi oleh Allah.
Waktu pun berganti. Dan Rara harus
berangkat ke Sekolah. Sebelum Dia berangkat dia srapan terlebih dahulu dan
pamitan kepada Tantenya. “ Pagi, Tante “, tanya Rara. “ Pagi juga, Ra... Rara
terlihat bersemangat sekali. Memangnya ada apa, Ra ? “, kata Tante. “ Tiadak
ada apa – apa, Tante.. kita kan harus selalu bersemangat ketika akan melaksanakan
aktifitas “, jawab Rara. “ Iya, Ra.. Rara bener... Sarapan dulu sana ! “, kata
Tante. “ Ya, Tante “, jawab Rara. Selesai sarapan Rara pergi ke Sekolah, tetapi
sebelum dia pegi dia mencium tangan Tantenya dan mengucapkan salam.
Tiba di Sekolah Shandy mendekatinya.
“ Hai, Ra ! “, kata Shandy. “ Hai,, Shan.. ada apa kamu memanggilku ? “, tanya
Rara. “ Ya sekedar menyapa saja.. gak
boleh ? “, jawab Shandy. “ Ya boleh.. kamu kan sahabat Rara “, kata Rara. “
Shandy gak mau jadi sahabatnya Rara “, kata Shandy. “ Terus.. jadi apanya Rara
? “, tanya Rara. “ Jadi pacarnya Rara ! “, kata Shandy. “ Huft,, Shandy” , kata
Rara. “ Shandy bercanda Ra,, Shandy Cuma ingin bikin Rara selalu tersenyum kok
“, jawab Shandy. “ Hhmmm... itu Rara udah senyum “, kata Rara. “ Hahahahaha,,
Ra..Raaaa!!!! “, jawab Shandy. “ Apa ? “, tanya Rara. “ Rara lucu banget bikin
Shandy gemes “, kata Shandy.
Rara merasa senang ketika dia berada
bersama Shandy. Shandylah yang saat ini menjadi teman curhatnya, sejak Ibunya
pergi. Dan bersama Shandy Rara bisa melupakan masalah yang dihadapinya walau
hanya sebentar. Handpone Rara berbunyi. Ternyata, Ibu Rara yang menelepon. Rara
senang sekali ketika Ibunya menelepon. Rara mengambil handponenya dan menjawab
telepon Ibunya. “ Assalamualaikum,, “, tanya Ibu. “ Waalaikumsalam “, jawab
Rara. Terdengar suara tangisan yang menyelimuti suara ibunya. “ Ra,, Ayahmu
kritis ! “, kata Ibu. “ Apa, Bu,, Ayah kritis ? “, tanya Rara. Mendengar hal
itu Rara pun menangis. “ Ya, Ra,,kamu berdoa saja agar ayahmu selamat “, kata
Ibu. “ Rara selalu mendoakan Ayah, Bu “. Tiba – tiba telepon itu mati. Rasa
senang yang Rara rasakan kini berubah menjadi sedih. Rara menjadi menangis dan
seakan dia lupa perkataannya kepada Shandy.
Jam 24.00 handpone Rara berbunyi.
Bertanda Shandy menelpon Rara untuk mengingatkannya Sholat Tahajud. Tetapi saat
Shandy menelepon, Rara sudah pergi ke Surabaya. Dia diantar oleh Tantenya untuk
mengunjungi Ayahnya. Rara terlihat senang, karena disana dia akan bartemu
dengan Ayahnya dan bisa melihat Ayahnya lansung.
Tiba di Surabaya, Rara terlihat
bingung. Karena dia melihat banyak orang yang berkumpul di depan Rumah
Neneknya. Rara merasa ada hal buruk yang terjadi, tetapi Rara berfikir positif
bahwa tidak ada hal buruk yang terjadi. Saat dia berdiri tepat di depan Rumah
Neneknya dia melihat ada jenazah yang tertidur di atas keranda. Ternyata dia
adalah Ayah Rara. Rara tidak menangis sama sekali. Dia hanya terlamun melihat Ayahnya seperti itu.
Seakan dia terlihat tegar.
Saat jenazah ayahnya akan dimandikan
Rara tidak sanggup untuk melihat dan memandikan ayahnya. Dia menangis tanpa
hentinya hingga dadanya terasa sakit. Kakak – kakak Rara menyruh Rara berhenti
menangis tetapi Rara tetap menangis. Sampai akhirnya, air mata Rara berhenti
dan dengan beraninya dia memandikan ayahnya dan melihat Ayahnya untuk terakhir
kalinya.
Selesai itu semua. Rara ikut melihat
proses pemakamannya. Ia berdoa agar semuanya berjalan dengan lancar. Dan kini
Raralah yang menjadi pelindung bagi keluarganya. Semua air mata yang metes dia
hapus. Karena dia tahu bahwa ayahnya akan menangis jika melihat Rara seperti
ini. Dia iklhas Ayahnya pergi dan dia akan menjadi orang yang Ayahnya inginkan.
Dan dia selalau yakin bahwa Allah telah merencanakan hal yang indah suatu saat
nanti untuk dia dan keluarganya.
Ayah kau akan selalu ada di dalam
hati Rara. Memang Raga ayah jauh dari Rara, tetapi jiwa ayah ada di hati Rara.
Ayah adalah sosok pemipin keluarga yang sangat baik, dan tegas. Ayah adalah
sesosok yang akan selalu Rara kenang, Rara contoh dan Rara ingat sampai nafas
Rara berhenti. Rara sayang Ayah.







2 komentar:
Hai Vini ..Apa cerpen di atas karya sendiri..???
Jika karya sendiri..akan lebih baik kalau karyaya sering di pos ke blognya..
Supaya bakatnya bisa di lihat orang
iya pak...
makasih :)
Posting Komentar